Bagian satu
Piring di hempas ke lantai, kuali terbang kesungai, Periuk tergeletak kenak banting dari tungku.
Kawan keparat apo itu, awak susah inyo buek tambah susah. Maki ibu
Ba a lai, zaman Sadang susah, dak taloknyo mambali maha.ayah membela diri
Manambah agak saketek pun dak nio? Kaparaiak, abg pulangan pitih tu baliak dak rila den sepeda anak den dibali saharago 20 ribu. Ancam ibu pada ayah
Kanciang dek kau, den lah panek kaingkin dek kau suruah, kini kau minta den mamulangan pitih tu, pulanganlah dek kau surang. Jawab ayah dengan marah
Den cabiak pitih ko lah, ancam ibu penuh emosi
Cabiak lah, kanciang. Tantang ayah dengan emosi pula
Dum, pintu terbanting. Ayah pergi dari rumah
Ya Allah, ba a ko sangsaro Bana hiduik den ko, mati se lah den minta ka kau ya tuhan. Teriak lirih sang ibu didapur
Kak, Lok, Upa... Sini! Ibu memanggil kami dengan keras.
Dengan langkah gontai kami menuju ibu,
Apa Bu? Jawab kami.
Kalian beli racun tikus tempat Bu subuh, habis tu kalian minum, biar ibu pastikan kalian mati duluan baru ibu ikutan mati.
Astaghfirullah Bu, ibu mau kita bunuh diri? Tanyaku
Dak sanggu ibu hidup kayak gini, hidup udah susah, banyak hutang, sepeda KK dijual dengan harga murah, kayak mana hidup kita kedepannya lagi? Mending mati ajalah kita sekeluarga biar ayah aja tinggal sendirian. Ucap ibu penuh emosi
Jangan lah gitu Bu, kata ustadz Fajarudin orang yang mati bunuh diri langsung terjerumus kedalam api neraka, dak keluar lagi do. Ibu mau kekal di neraka? Ibu sanggup? Tanyaku lirih pada ibu
Jadi dak boleh kita bunuh diri nak? Tanya ibu sambil ketawa bercampur air mata
Istighfar Bu, jawabku dengan mata berkaca
Waktu itu usia ku sembilan tahun, hidup dalam keluarga yang serba kekurangan bukanlah hal yang mudah, Alhamdulillah sejak kecil aku sudah dibekali ilmu agama oleh ibuku, dimasukannya aku ke surau dan MDA agar aku mendapat pemahaman agama yang baik. Ya, setidaknya bekal agama itu bisa membuat ibu menghentikan aksi pe cobaan bunuh diri yang ingin dilakukannya.
Saat itu ekonomi memang sangat susah, hutang dimana-mana. Ayah kehilangan pekerjaannya sudah hampir setahun ayah menganggur, untuk memenuhi kebutuhan hidup kami ibu bekerja serabutan, kadang membersihkan botol atau plastik bekas yang perkilonya dihargai 3000 kala itu, kadang bekerja di pabrik cuka ayah pipi, teman sekelasku, hingga akhirnya menjadi pembantu di perumahan elit wilayah atas sana. Setiap pagi aku harus membawa dagangan kesekolah, ada beberapa tentengan yang aku bawa, tiga letak diwarung, dan satu aku bawa kekelas.
Biasanya setiap pagi aku berangkat sekolah bareng Desi, karena sekarang Desi ada teman baru yang dekat dengan rumahnya, jadi ibu Esi tidak lagi mengantar Esi ke jamban rumah ku, tapi ke jamban rumah Mimi, maklum rumah Esi di seberang sungai jadi ia harus naik sampan agar sampai kesekolah. Karena sudah tidak ada Desi, aku sering mampir kerumah Pipi, kebetulan ia baru pindah kerumah petak ibu ijas, ayahnya membuat pabrik cuka dan garam, ayah pipi seorang pengusaha, ayah dan mama pipi orang baik, mereka sering memborong kue kue ku saat aku menunggu Pipi untuk berangkat kesekolah bareng.
Selama menjadi pengangguran ayah sering bermenung, tak ada yang bisa ayah lakukan, ayah tak punya keahlian apapun selain membalak kayu dan membawa kapal. Beruntung, ayah adalah orang yang baik dan royal, sehingga saat susah teman-temannya lah yang sering memberi sedikit uang dan rokok untuk hidup ayah, sebut saja pak Irsyad yang sering datang kerumah untuk membantu atau sekadar berbagi cerita, walau rumah pak Irsyad jauh di atas, ia tak pernah bosan untuk mengunjungi kami di wilayah bawah. istri pak Irsyad jugak baik, sebut saja buk Susi, beliau sering memberi kami makanan, aku senang jika buk Susi datang berkunjung.
Alhamdulillah, dalam dunia yang menyakitkan ini masih saja ada orang yang peduli kepada kami, satu lagi yang paling kuingat sosoknya, aku memanggil Bumun, dulu beliau adalah tetangga kami, karena beliau punya tanah di seberang beliau pun pindah, tapi masih sering berkunjung kerumah kami, pernah suatu hari ibu sangat membutuhkan uang, entah untuk keperluan apa, aku lupa. Ibu meminjam kepada bumun, padahal saat itu bumun juga lagi kekurangan uang, ia rela menjual kalungnya untuk dipinjamkan ke ibu dan mengantar langsung kerumah, padahal yang minjam ibu, tapi bumun mau mengantar pinjaman kerumah. Karena jarak rumah kami dibatasi oleh sungai Siak, bumun harus naik sampan agar sampai kerumah, bumun meminjam sampan ibu Esi karena beliau tidak punya sampan, ternyata sampan ibu Esi bocor, hampir saja mereka tenggelam disungai Siak, Alhamdulillah mereka selamat. Belum ada kutemui orang sebaik bumun, semoga Allah SWT memberikan rahmatnya kepadamu, bumun.
Kemiskinan, kekurangan, hutang, gunjingan tetangga, kenyang aku merasakannya. Belum lagi nilai akademik ku yang pas pas an, dapat bantuan raskin, makan ikan busuk, dikasih barang bekas, dipandang sebelah mata, kesedihan seperti apa yang harus kututupi?
Berjualan dikelas bukan tidak ada yang membuly, bukan sekolahan namanya jika tidak ada anak jail yang suka mengganggu, beruntung aku punya teman seperti Desi, Pipi dan Nona, mereka selalu membantuku ketika aku dikatai oleh Budi dan Hari si tukang bully di kelas kami.
Tuhan telah mengajariku tentang berjuang, membiarkanku bersedih hati lalu menghadirkan sosok penyejuk hati. Aku sedih hidup kekurangan, tapi aku bangga punya sahabat yang tidak memandang harta walau dia anak orang kaya. Tidak ada yang lebih berharga dalam hidupku selain memiliki sahabat seperti kalian, Nona, Desi, Pipi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar